• Breaking News

    Mengenal Kejang Demam Pada Anak - dr. Meivita Tahalele

    Mengenal Kejang Demam Pada Anak - dr. Meivita TahaleleMengenal Kejang Demam Pada Anak - Kejang demam atau yang biasanya dikenal dengan step yang terjadi pada anak, seringkali membuat orang tua panik. Orang tua dari pasien yang dibawa karena kejang demam, biasanya akan sangat panik dan terlihat tergesa- gesa membawa anaknya ke fasilitas kesehatan. Mengapa? Karena orang tua mendapati anak mereka yang sedang demam tiba- tiba saja kejang. Anak terlihat seperti kaku, dengan bola mata ke arah atas atau terlihat dengan lidah tergigit. Kondisi ini akan membuat orang tua bingung apa yang harus pertama kali dilakukan. Sebelum mengetahui langkah- langkah yang harus dilakukan saat anak mengalami kejang demam, sebaiknya kita mengetahui beberapa hal berikut: Kejang Demam adalah Kejang yang terjadi pada anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun, saat anak mengalami demam/ peningkatan suhu tubuh (di atas 38o C), yang tidak disebabkan oleh kelainan di dalam otak. Melalui pengertian ini, berarti kejang demam adalah kejang yang terjadi bukan karena gangguan metabolik atau elektrolit. Bila ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya, maka tidak dapat disebut kejang demam. Anak yang berumur 1- 6 bulan masih dapat mengalami kejang demam, namun sangat jarang terjadi.

    Kejang demam ini dibagi menjadi dua yaitu: Kejang demam sederhana dan Kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung kurang dari 15 menit, bersifat umum, tidak berulang dalam 24 jam. Kejang ini adalah jenis kejang yang paling sering terjadi pada anak. Kejang demam kompleks adalah kejang demam yang berlangsung lebih dari 15 menit, sifatnya fokal/ parsial, berulang atau terjadi lebih dari sekali dalam 24 jam.

    Gejala yang terjadi jika anak mengalami kejang demam adalah: suhu tubuh meningkat, kedua tangan dan kaki kaku, bola mata ke arah atas atau terkadang berkedip- kedip, saat kejang anak tidak sadar (tidak memberi respons apabila dipanggil atau diperintah, namun setelah kejang anak menjadi sadar kembali).

    Penyebab kejang demam adalah peningkatan suhu mendadak, yang biasanya disebabkan karena adanya proses radang atau infeksi, misalnya saat anak mengalami infeksi saluran pernafasan akut/infeksi saluran kemih/ infeksi telinga. Faktor genetik juga diduga berperan dalam kejadian kejang demam. Adanya respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi juga berperan dalam kejadian kejang demam.

    Pada beberapa kasus, kejang demam dapat terjadi berulang. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah: riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga, usia kurang dari 12 bulan, suhu tubuh saat kejang kurang dari 39o C, interval waktu yang singkat antara terjadinya demam dan kejang, apabila kejang demam pertamamerupakan kejang demam kompleks. Jika terdapat seluruh faktor tadi, kemungkinan terjadi kejang demam berulang adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut maka kemungkinan kejang demam berulang hanya 10%- 15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar terjadi pada tahun pertama.

    Kejang demam biasanya menghilang dengan sendirinya pada saat anak berusia 5 tahun. Kejang demam bukanlah epilepsi, namun dapat menjadi epilepsi jika ada beberapa faktor risiko. Kejadian epilepsi dapat terjadi pada kurang dari 5% anak dengan kejang demam karena adanya faktor risiko, seperti:

    Adanya kelainan perkembangan atau neurologis yang jelas, sebelum terjadinya kejang demam yang pertama. Kejang demam kompleks Kejang demam sederhana yang berulang 4 kali episode atau lebih dalam satu tahun. Adanya riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung. Masing- masing faktor risiko di atas meningkatkan kemungkinan terjadinya epilepsi sebesar 4-6%. Apabila ditemukan kombinasi faktor risiko, kemungkinan epilepsi meningkat sampai 10-49%. Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila kejang terjadi di atas rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, atau setelah kejang anak tetap tidak sadar, maka akan dilakukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan penyebab lain kejang seperti epilepsi, meningitis (radang selaput otak) atau ensefalitis (radang otak).

    Prognosis kejang demam secara umum sangat baik. Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal. Kelainan neurologi dapat terjadi pada kasus kejang demam lama atau kejang berulang, baik umum maupun fokal. Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan pada saat mendapati anak kejang demam:

    1. Usahakan untuk tetap tenang dan tidak panik. 
    2. Longgarkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher. Letakkan anak di tempat yang aman, jauhkan dari benda-benda berbahaya.
    3. Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada dalam mulut akan keluar sehingga anak terhindar dari bahaya tersedak.
    4. Jangan memberi minum anak yang sedang kejang karena anak akan tersedak dan terjadi kegawatan. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut (misalnya: sendok, kayu, jari orangtua, atau benda lainnya ke dalam mulut), berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas apabila terjadi luka.
    5. Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa
    6. Ukur suhu, perhatikan pola dan lamanya kejang (kejang demam sederhana atau kompleks)
    7. Tetap bersama anak selama dan sesudah kejang
    8. Apabila anak sudah pernah kejang demam sebelumnya, dokter mungkin akan membekali orangtua dengan obat kejang yang dapat diberikan melalui dubur (diazepam). Setelah melakukan langkah- langkah pertolongan pertama di atas, obat tersebut dapat diberikan sesuai instruksi dokter.
    9. Membawa anak ke dokter atau rumah sakit bila: kejang berlangsung sekitar 5 menit atau lebih, suhu tubuh lebih dari 40oC, kejang tidak berhenti dengan diazepam rectal, setelah kejang anak tidak sadar atau terdapat kelumpuhan.

    Pada prinsipnya, cara mencegah kejang demam sejak dini adalah dengan menurunkan suhu tubuh dengan pemberian obat (misalnya parasetamol atau ibuprofen), jika anak sangat rewel dan suhu badan sangat tinggi. Pemberian ini harus sesuai dengan dosis dan telah dikonsultasikan dengan dokter. Berikan anak kompres hangat pada dahi, ketiak, atau lipatan tubuh lainnya. Sangat dianjurkan agar orang tua memiliki thermometer/ alat pengukur suhu di rumah agar dapat mengukur suhu anak dan dapat mencegah terjadinya kejang akibat suhu tubuh yang tinggi. Jika orang tua telah mengetahui mengenai kejang demam dan cara menangani kejang demam di rumah, maka diharapkan tidak terjadi kepanikan saat terjadi kejang demam, serta komplikasi akibat kejang demam pun dapat dihindari.(**)


    Penulis: dr. Meivita Tahalele
    Dokter Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan - Puskesmas Saparua, Kab. Maluku Tengah

    1 comment: