• Breaking News

    Warga IHA Diminta Kembali ke Saparua Timur

    Warga IHA diminta Kembali ke Saparua
    Warga IHA diminta Kembali ke Saparua

    BinaiyaNews - “Dorang harus hidup berdampingan dengan basudara di jasirah Hatawano. Karena kalo seng ada orang Iha katong Hatawano ini seng lengkap. Batul ada orang Siri Sori, ada orang Kulur, tapi seng sama dengan katong sudara Iha ee,” cetus Dominggus Sopacualatu (53) dengan suara yang terdengar serak seolah menyimpan harap di balik telepon selulernya.

    SUARA tokoh adat bergelar “Tuang Negeri Ihamahu” ini jelas penuh rindu dan harap. Apahlagi, saudaranya warga Negeri Iha masih tersebar dalam pengungsian di beberapa daerah dan negeri di Maluku. Tentu saja dia merasa ada yang hilang. Dan ada yang tidak lengkap bagi negerinya, Ihamahu, bahkan bagi seluruh jazirah Hatawano (Saparua).

    Dan yang membuat bulu roma merinding ketika terdengar suara tokoh adat ini memanggil dari jauh. Meminta saudaranya warga Iha segera kembali.

    “Sudara katong ingin par dong datang tinggal deng katong, katong rindu deng masa-masa dolo, bilang dong datang jua, alasan apa sampai seng mau datang?” terdengar suara Dominggus di balik telepon selulernya itu penuh harap.

    Dan hari Sabtu, 26 September 2015 empat tahun kemarin, barangkali merupakan hari bersejarah bagi seluruh warga Negeri Iha dimana pun. Betapa tidak, 16 tahun sudah negeri mereka yang berada di Kecamatan Saparua Timur itu ditinggal kosong tak berpenghuni.

    Negeri yang konon terdapat bekas-bekas salah satu pusat kerajaan Islam tertua di Maluku itu harus luluh lantak disapu imbas konflik 1999. Tragedi itu terjadi pada 23 September Tahun 2000 silam. Ketika ribuan warga Iha harus mengungsi.

    Tak ada yang bisa dipertahankan lagi. Sebab semua orang diamuk nafsu perang. Ketika anyaman para leluhur orang Saparua yang berbingkai “Pela Gandong” dirobek-robek api amarah.

    Kini setelah semua orang telah sadar, dan tidak ada lagi amuk perang. Dimana dendam kesumat terhapus oleh sapaan dan senyum warga saat saling berpapasan, di rantau maupun di Kota Ambon, bahkan di Saparua, masyarakat Negeri Iha pun kembali.

    Namun mereka hanya datang untuk menjenguk tanah pusaka. Momentum lebaran Idul Adha 1436 H dimanfaatkan warga Negeri Iha yang tersebar di sejumlah daerah di Maluku untuk menjenguk negeri asal mereka.

    Menggunakan 6 buah speed boat sarat penumpang dari Kecamatan Salahutu, warga Negeri Iha bercururan air mata penuh haru ketika menginjakan kaki mereka di kampung halaman mereka itu. Tak lupa bekal seadanya disertai perlengkapan menginap untuk dua hari.

    Seperti diungkapkan oleh salah satu warga Iha, Buyung Toekan. “Kami menggunakan 6 buah speadboat menuju tanah laluhur kami Iha Amalatu. Menginap dua hari menggunakan tenda, perlengkapan kebersihan dan memasak seadanya selama berada di kampung kami,” tuturnya.

    Diceritakan, hal yang membuat anak-anak negeri tak mampu menahan tangis, yaitu ketika dari jauh mata memandang terlihat kampung halaman ini, telah rata dengan tanah.

    Warga IHA diminta Kembali ke Saparua
    Warga IHA diminta Kembali ke Saparua

    Lalu dengan mengandalkan bekas-bekas yang masih bisa dikenal. Berupa pohon, tembok maupun jalan setapak maupun benda-benda lain, mereka mencari lokasi rumah masing-masing.

    Sementara yang lain membersihkan mesjid, dan makam leleuhur yang telah tertutup rumput ilalang. “Begitulah kondisi kampung kami setelah berpuluh tahun meninggalkanya,” kata Buyung dengan nada sedih melalui telepon selulernya.

    Baca Juga : Satukan Visi, Komunitas Keyboard Musik Masohi Terbentuk

    Akibat konflik kemanusiaan 1999, warga Iha memilih mengungsi dan menetap di luar pulau Saparua. Diantaranya, dusun Lengkong petuanan Negeri Liang Kecamatan Salahutu dan dusun Iha Lohy, di kawasan petuanan Negeri Sepa Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah. Sementara yang lain memilih Kabupaten Buru sebagai daerah tujuan.

    Melihat kondisi kampung halaman yang memprihatinkan, warga Iha pun ingin kembali. Ungkapan hati tersebut disampaikan Syarif Haulussy. Dan kata Syarif, lebih dahulu akan dilakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan setempat. Untuk kemudian disampaikan ke Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah maupun Provinsi Maluku.

    “Pertama kita telah bentuk tim dan melakukan pendataan masyarakat Negeri Iha, untuk selanjutnya kembali ke Negeri mereka itu,” terang Syarif melalui telepon seluler.

    Syarif yang juga ketua Tim Iha Amalatu adalah salah satu satu pengungsi Iha dari Kabupaten Buru. Dia mengakui, selama berada di daerah pengungsian, tetap saja terkenang kampung halamannya itu.

    Itulah sebabnya, dirinya terpanggil untuk datang bersama saudara-saudaranya yang lain di momen itui. Untuk melihat kondisi kampung halamannya.

    Menurutnya keluarga besar Iha di Kabupaten Buru juga bersepakat untuk membentuk tim Iha Amalatu. Sebagai tindak lanjutnya, setelah lebaran Idul Adha perjalanan ke tanah leluhur itu pun dilakukan. “Kampung kami akan menangis kalau tidak pernah dikunjungi. Apalagi di setiap hari-hari yang baik seperti suasana Lebaran seperti ini,” kata Syarif.

    Syarif Haulussy menyebutkan, agenda kunjungan dua hari yaitu pada tanggal 26-27 September 2015 itu, untuk membersihkan kampung yang telah ditutupi rerumputan. Setelah itu barulah dilakukan pendataan penduduk Iha Amalatu yang diperkirakan mencapai 700-1000 KK dan tersebar di berbagai tempat itu.

    “Hasilnya akan kami sampaikan ke Pemerintah Kabupaten dan Provinsi, selanjutnya ke pemerintah pusat untuk mendapatkan bantuan,” terang Syarif.

    Syarif pun berharap campur tangan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tengah, utamanya pemerintah kecamatan setempat. Terutama untuk memberikan pemahaman agar warga Negeri Iha yang saat ini berada diluar pulau Saparua kembali menempati bekas negeri yang ditinggalkan.

    Seperti harapan yang diutarakan Dominggus Sopacualatu Tuang Negeri Ihamahu, saudaranya orang Negeri Iha harus kembali. “Katong rasa asing kalo seng ada orang Iha. Saparua ini dorang sudah orang pertama, ini dorang pung tanah leluhur dari Kerajaan Iha,” ungkapnya terus terang.

    Dominggus sendiri mengaku tak habis pikir apa alasan warga Iha enggan pulang ke tanah asal. Dia mengaku sampai-sampai harus putar otak bagaimana caranya supaya warga tetangga negeri Ihamahu itu mau kembali.

    Pernah sekali waktu dia duduk bermusyawarah dengan Raja Iha Lohy di petuanan Negeri Sepa. Untuk membicarakan upaya-upaya untuk mengembalikan masyarakat Negeri Iha kembali ke Hatawano.

    Baca Juga : 2 Proyek Milik PUPR di Negeri Nolloth Amburadul

    Karena ditanggapi dingin oleh Raja Iha Lohy yang mengatakan, masyarakatnya akan kembali tahun 2020-an dan masih lama lagi, kata Raja Iha Lohy, Dominggus pun kecewa. Dia lalu mencari ide sendiri. Yaitu ingin membangun sebuah rumah ibadah umat Muslim Iha. Untuk meyakinkan saudara-saudaranya itu siap diterima kembali dengan sepenuh hati dengan segala perbedaan yang ada. Dan melupakan semua masalah yang pernah terjadi.

    “Beta kalo ada anggaran, biar beta nanti bangun satu Musolla. Biar dong terpanggil for datang berdoa di Negeri. Bahkan kalu dong seng ada biar beta sementara yang jaga akang sampai dorang datang,” cetus tetua adat Negeri Ihamahu itu. (BN-01)

    No comments