• Breaking News

    Kilimury Terisolir, Siswa SD Tiap Hari Berenang ke Sekolah

    Kilimury Terisolir, Siswa SD Tiap Hari Berenang ke Sekolah
    Kilimury Terisolir, Siswa SD Tiap Hari Berenang ke Sekolah

    Binaiyanews.com, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) - Sarajo Rumuar datang dengan wajah sumringah. Dia gembira melihat Bahrum Wadjo yang anggota DPRD Seram Bagian Timur (SBT) itu ramah, melambaikan tangan menyuruhnya datang merapat.

    Seperti Bahrum, Sarajo juga berperawakan kecil. Pria 44 tahun ini merupakan mantan kepala dusun Nekang. Setelah Nekang mekar jadi desa administatif, Sarajo naik jadi Sekdes.

    Namun pemekaran, nyaris tak berdampak apa-apa. Nekang maupun desa induk Kilmury yang memiliki 14 desa administratif dengan 20 dusun  tetap saja terisolir sampai sekarang.

    Buktinya, Sarajo belum pulang ke Kilmury. Meski dia sudah berminggu-minggu mondar-mandir di Kota Bula yang suhunya menyengat. Demi supaya DD dan ADD Desa Nekang 2018 senilai Rp 600 juta itu cair tanpa kendala. Sementara untuk balik ke desa, dia harus lihat-lihat cuaca dulu, sampai longboat yang akan ditumpangi punya trip ke Kilmury. "Sedangkan untuk urus dana desa dan ADD di Kecamatan, belum bisa," ujar Sarajo dengan wajah menunduk saat berada di walang milik Bahrum Wadjo. Rabu (18/7/2018).

    Di Walang "politik" yang berada di beranda belakang rumah Bahrum Wadjo, Sarajo Rumuar bercerita soal terisolirnya Kilmury dari jangkauan pelaku pembangunan, yakni pemerintah daerah.
    Dan entah apa, perangkat pemerintah desa yang satu ini, cuma diam, ditanya soal keberadaan Camat Kilmury. Apakah dia datang jauh-jauh dari desa untuk menemui Camat tersebut di Bula, atau pejabat berwenang terkait DD maupun ADD, sarajo tertutup.

    Baca Juga : 5 Pelajar SBT Terjun ke PPLP Nasional di Aceh

    Di lain pihak tidak ada pilihan bagi Sarajo selain bertumpu harapan pada Bahrum Wadjo. Bahrum, memang berasal dari Dapil dimana Kecamatan Kilmury, masuk dapil Bahrum Wadjo.

    Terpencilnya wilayah Kilmury bukan lagi rahasia umum bagi masyarakat SBT. Luasnya dataran Hunimua, calon lokasi ibukota SBT yang terkoneksi dengan jalur lintas Seram, bukan apa-apa. Masyarakat hingga saat ini, tetap terkungkung oleh bentangan alam wilayah Kilmury yang berhutan lebat dan dikelilingi perbukitan terjal.

    Sementara di musim timur, cuaca ekstrim menyebabkan laut berubah ganas. Di darat Sungai-sungai meluap dan berarus deras. Memutus jalur transportasi dan mobilitas masyarakat di desa dan dusun Kecamatan Kilmury. "Tinggal di Kilmury, enam bulan seng bisa buat apa-apa, hujan ombak, mau kemana? enam bulan berikut atau musim barat baru katong bisa keluar mancari (nafkah)," kata Sarajo.

    Kilimury Terisolir, Siswa SD Tiap Hari Berenang ke Sekolah
    Kilimury Terisolir, Siswa SD Tiap Hari Berenang ke Sekolah

    Namun seperti diakui, Sarajo, hanya Bahrum Wadjo yang berani mengelola Dapil tersebut. Meski, Kilmury terpencil dan sulit dijangkau transportasi, pria kulit putih kemerahan, berperawakan kecil itu cekatan, kerap berteriak-teriak memberi komando mirip juragan perahu ini siap menghajar tantangan alam wilayah itu.

    Nama Bahrum memang kondang di telinga warga Kilmury. Proyek-proyek yang dibiayai dengan dana aspirasi miliknya dirasa ikut membantu. Talud, jalan setapak, hingga pemberdayaan nelayan dan petani, pasti ada label nama Bahrum tertulis di tiap bahan material yang ia pasok ke Kilmury.

    Baca Juga : 12 Produk Kemasan Berlabel SBT Siap Rambah Pasar

    Namun sejago-jagonya Bahrum Wadjo mengelola dapil, dia harus mengaku kalau kemampuannya terbatas. Dengan kekesalan yang tak tertahankan, dia bicara soal derasnya air sungai Tala dan sungai Sosa di Desa Nekeng. "Kalu itu memang katong seng mampu. Dananya terlalu besar tuang. Mustahil buat jembatan di sana pakai dana APBD," ujar Sekertaris Fraksi Demokrat DPRD SBT itu.

    Dengan nada tinggi, dia mengkritik habis pemerintah daerah maupun instansi vertikal pusat. "Katong bikin desa, katong hajar dengan anggaran yang ada. Tapi proyek jembatan ini harus intervensi pemerintah provinsi maupun pusat. Di lain sisi, Bupati juga harus mesra dengan dengan Gubernur dan Balai Sungai. Itu baru bisa bangun Kilmury," tegasnya.

    Menurutnya, Kecamatan Kilmury tak pernah menikmati alam kemerdekaan. "Sangat terisolir. Di jaman Whattsapp macam begini, orang Kilmury mau bicara dengan dunia luar saja, signal ilang-ilang itu bagaimana?," katanya.

    Dia mengingatkan, agar politik anggaran pemerintah daerah maupun pusat, harus berpihak pada masyarakat Kilmury. Didukung  langkah koordinatif yang baik antara para pemangku kebijakan, agar pembangunan di wilayah Kecamatan ini efisien dan efektif.

    Seperti diakui Sekdes Nekang Sarajo Rumuar, hanya tunggu waktu saja, dua sungai itu makan korban anak sekolah. Tapi seolah Yang Kuasa tahu, hingga saat ini tak ada siswa-siswi hanyut ketika berenang menyeberangi sungai. Yang pasti sungai Sosa dan Tala membuat siswa-siswi SD Desa Nekang terbiasa sejak kelas satu berenang sejauh 25 meter di bagian paling dalam dari kali Sosa.

    Konon, menurut Sarajo, hanya anak-anak usia di atas 7 tahun yang mampu melakukannya.
    Alhasil, para orang tua harus menunggu anak-anak laki-laki maupun perempuan mereka mencapai usia 7 atau 8 tahun dulu, barulah didaftarkan di SD. "Makanya rata-rata anak-anak kelas satu dari Desa Nekang biasanya besar-besar. Di atas 7 tahun. Taruh mulai 8 tahun lah, baru dong masuk SD," aku Sarajo.

    Baca Juga : Hari Kesadaran Nasional, Wabup SBT Ingatkan ASN Pahami Aturan

    Ini karena SD tempat mereka belajar di desa tetangga, yakni Desa Avan, yang hanya bisa dicapai dengan menyeberangi kedua sungai atau kali tersebut. "Tiap hari anak-anak harus berenang dulu. Nanti pakaian kering sendiri di jalan. Dong jalan tiga kilo lagi baru sampai di sekolah," tutur Sarajo.

    Setelah berenang menyeberang sungai, mereka tinggal mengambil sepatu dan yang dititip di rumah-rumah saudara di seberang kali. Lalu melanjutkan perjalanan ke Desa Avan, tempat sekolah mereka berada.

    Tapi anak-anak ini tak bisa berbuat apa-apa, ketika hari hujan deras. Hasrat yang menggebu-gebu sekalipun untuk mengikuti pelajaran di sekolah harus kandas.

    Menurut, Sarajo, sebagai perangkat pemerintah desa dirinya hanya bisa mengusap dada. Saat melihat anak-anak SD dari desanya itu, memandang kuyu pada derasnya air sungai yang bergemuruh di hadapan mereka. Sampai saat ini situasi yang memprihatinkan itu masih terjadi dan membutuhkan perhatian serius dari semua pihak menyelesaikan kendala mereka di sana. "Mau bikin bagaimana, anak-anak terpaksa bale ke rumah. Air terlalu deras, dong seng bisa berenang. Tapi biasa tiga hari saja, air kali Sosa su turun," ujar Sarajo Rumuar.(**)

    No comments

    Post Top Ad