• Breaking News

    12 Produk Kemasan Berlabel SBT Siap Rambah Pasar

    Binaiyanews.com, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBT), BULA - Ada jus pala Tunil, ada kacang botol Way Solang, ikan julung kering Sukuway, Super Sagu Tabangkit, juga tepung sagu Andan. Inilah 5 dari 12 produk olahan lokal Kabupaten SBT yang lagi didorong masuk pasar domestik.

    Tapi Minyak Goreng Minlen dan Tepung Kakao Gudar bakal jadi primadona, untuk bersaing dengan produk sejenis di pasar domestik. Dua produk ini seperti yang lain disamping telah mempunyai P.IRT atau kode produksi, kemasan dengan label produk, sisa menunggu sertifikasi halal dari MUI.
    "Ini minyak goreng kelapa asli, rendah kolesterol. Tidak seperti minyak goreng dari kelapa sawit kolesterol tinggi," ungkap Kadis Ketahanan Pangan Mirna Derlen sambil memegang sebotol spesimen atau contoh minyak goreng Minlen, Selasa (17/7) di kantornya.

    12 Produk Kemasan Berlabel SBT Siap Rambah Pasar
    12 Produk Kemasan Berlabel SBT Siap Rambah Pasar

    Produk yang kedua, tepung kakao atau bubuk cokelat "Gudar", kata Mirna tidak kalah dengan produk impor dan menjadi kesayangan ibu-ibu, Van Houten. "Rasa sama dengan Van Houten. Hanya tidak bisa langsung dimakan, diolah dulu jadi kue atau panganan lain," katanya.

    Terlepas dari 12 produk unggulan yang siap merambah ke pasar domestik, menurut Mirna, Pemda Kabupaten SBT menghadapi masalah harga komoditi yang serius. Perbedaan harga yang cukup besar antara tempat yang satu dengan yang lain. "Ini membuat petani patah semangat. Harga cokelat, harga ikan, sagu, di kecamatan A lebih tinggi dari kecamatan B, C dan seterusnya. Ini yang katong mau lakukan pendataan dulu," ungkapnya.

    Menurut dia, harga yang stabil berpengaruh pada penyiapan bahan baku 12 komoditas unggulan yang telah siapkan masuk pasar domestik. Selain data soal kesenjangan harga, pihaknya juga menghadapi perilaku atau karakter petani dan nelayan yang ingin memperoleh hasil secara instan.

    Baca JugaDisdukcapil : Pemda Harus Siapkan Infrastruktur Data

    Sementara mereka butuh pembinaan dari sisi mental berusaha dulu. Dengan tujuan merobah pola hidup yang tidak produktif. Dari 15 orang tiap kelompok usaha, sebutnya, yang mau ikut paling 10 orang. Kalau dipaksa bisa fatal, tim Badan Ketahanan Pangan bakal jadi sasaran hujatan.
    "Dong maunya, katong datang harus bawa uang, bawa barang bantuan, padahal bukan itu, semangat berusaha dulu yang musti katong bentuk untuk mereka," ujar Mirna.(**)

    No comments

    Post Top Ad